3(tiga) bank 'plat merah' dijual ke cina. tidak benar! katanya.

Percaya tidak? ya mungkin jawabannya dengan bakalan minta syarat dulu, siapa dulu yang bicara. lantas kenapa pula disebar kabar; tiga bank plat merah dijadikan jaminan utang untuk pembangunan infrastruktur demi meningkatkan angka perekonomian nasional jika tak ada sebab, ingat kata pepatah; "tak ada asap kalau tak ada api". lantas kenapa pula harus ke cina? bukan kah negara lain juga ada?. jawaban ini semua pasti berkesan retorik dan politis, kalau kita memakan mentah jawaban ini tentu bisa-bisa kita sakit perut :-) ya harus dimasak dululah. Tiga bank yang dimaksud adalah;
  • bank Mandiri
  • bank BRI
  • bank BNI

BUMN
Disini saya tak akan mengutip sanggahan para legislator, dalam kesempatan ini saya coba berhati-hati agar supaya tak ada tuduhan memihak atau tidak objektif. kalaupun pada kenyataan akhirnya tidak objektif, toh nyatanya ini cuma curhat belaka, bukan berita yang harus ditelan mentah-mentah, ingat! sakit perut nanti :-) anggaplah ini cuma sekedar refleksi, evaluasi diri, kontemplasi, renungan, pertapaan atau apalah istilahnya,  tentu tak ada niat untuk menjelekan suatu rezim disuatu negara tertentu yang emang sudah jelek dan ga ada prestasinya kecuali pendukungnya sibuk dengan pencitraan, wallohu'alam. ini jauh dari itu semua.

Mari kita bicarakan orang lain yang nun jauh disana, dinegerinya 'Yakjuj_dan_Makjuj'(sebetulnya dimanakah tempat yakjuj dan makjuj berasal, para ahli masih mempedebatkannya) dikatakan; 'mereka akan mengambil apapun[eksploitasi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia] yang dilewatinya, tak ada satu wilayahpun yang dilewatinya pasti dalam keadaan kering tak bersisa'. rupanya rada nyambung juga ya[kalau rada dipaksakan] dengan fenomena sekarang ini.


Kita sejenak tinggalkan fakta dari banyak kitab suci hampir semua agama yang menyatakan ini, sebab sulit menghubungkan dengan bank plat merah nya :-D apalagi yang baca gak tau agama, bisa berabeh nanti :-). Sejak kemajuan pesat perekonomian cina, cina memposisikan diri sebagai negeri terkaya dimana yang paling berperan dalam situasi ini adalah proses produksi semua merek dan produk teknologi dari seluruh dunia dilakukan disini ada satu keuntungan yang tak dapat dihindari lagi yaitu transfer teknologi yang tak usah ditransfer lagi dari negeri penciptanya toh para mencipta memproduksinya di rumah mereka, tentu dengan keadaan ini, selain meningkatkan taraf hidup yang jauh melesat, akhirnya cina masuk kedalam investasi diberbagai bidang, membeli banyak perusahaan diluarnegeri, yang paling jelas adalah pembelian berbagai perusahaan yang awalnya milik amerika, banyak merek terkenal kenyataanya sudah berpindah kepemilikan, dari mulai industri produksi sampai pada industri hiburan, kebanyakan sudah milik cina sekarang.[silahkan searching tentang ini di youtube, banyak sekali video dukumenter nya] coba saja dengan kata pencarian;"cina buyying america". semoga ini membukakan fikiran kita, sebab informasi tentang semua itu ada, lantas kenapa pula kita tetep dengarkan media mainstrean yang dengan jelas membimbing dan mengarahkan bagaimana seharusnya kita berfikir sesuai keinginan mereka :-( let its free. salah satu diantara video yang menarik berikut ini;


Apakah ini semua hanya terjadi di luar negeri saja? ini tak mungkin terjadi dinegera kita, takmungkin kekayaan negara kita dijual ke fihak asing, jika kita masih tetap pada cara berfikir polos seperti ini, bisa jadi pada waktu tidak lama lagi, kita ngontrak tinggal sebab tanah kita sudah milik asing, bekerja diperusahaan asing, membeli kebutuhan hidup di supermarket milik asing. terakhir[mungkin] kita mati anak cucu kita bayar kontrak pemakaman yang sudah diprivatisasi ke fihak asing, tak adal lagi milik pribumi.. tak bersisa. semoga ini tidak terjadi, amin.

Solusi

Tidak ada solusi bagi jiwa-jiwa yang didalamnya sudah tak ada lagi nasionalisme, yang tersisa hanya ada pada retorika di acara seremonial saja, selepas itu.. money talk, guys. persis seperti cerita dinegara-negara maju, dimana the invisuble hand membantu habis-habisan kampanye jagoannya tentu bukan dukungan karena idealisme tetapi semata demi melebarkan tentaclesnya keseluruh penjuru bhumi. Mari kita pupuk idalisme nasional kita sebelum anak-cucu kita pun hilang harga dirinya dan dengan sukarela menjadi budak asing :-( tak usah merasa terlambat. Dikatakan; "bahkan kalaulah engkau tahu esok hari kiamat, benih ditangan haruslah ditanam pula.."


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar